Minggu, 09 April 2017

Keutamaan Membaca dan Mengkaji Al-Qur-an

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah swt dan mendirikan sembahyang dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengaan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan  yang tidak akan merugi. Agar Allah swt menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah swt Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Fathiir 35:29-30)




Telah saya sebut dari Usman bin Affan ra, katanya: Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
 “Sebaik-baik diantara kalian ialah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.”
(Riwayat Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari dalam shaihnya)

Diriwayatkan daripada Aisyah ra, katanya: Rasulullahshalallahu 'alaihi wa salam  bersabda:
 “Orang yang membaca Al-Quran sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Quran, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al-Hujjaj bin Muslim Al-Qusyaiy An-Nisabury dalam dua kitab Shahih mereka. (Riwayat Bukhari & Muslim) 

Diriwayatkan daripada Abu Musa Al-Asy’aru ra, katanya: rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
 “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Quran adalah seperti buah Utrujjah yang baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Quran seperti buah kurma yang tidak berbau sedang rasanya enak dan manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Quran adalah seperti raihanah yang baunya harum sedang rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Quran adalah seperti hanzhalah yang tidak berbau sedang rasanya pahit.”
(Riwayat Bukhari & Muslim)

Diriwayatkan dari Umar bin Al-Kattab ra, bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Sesunggunya Allah swt mengangkat derajat beberapa golongan manusia dengan kalam ini dan merendahkan derajat golongan lainnya.”
(Riwayat Bukhari & Muslim)

Diriwayatkan daipada Abu Umamah ra, katanya: Aku medengar Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam  bersabda:
 “Bacalah Al-Quran karena dia akan datang pada hari Kiamat sebagai juru syafaat bagi pembacanya.”
(Riwayat Muslim)

Diriwayatkan dari pada Ibnu Umar ra, dari pada Nabi shalallahu 'alaihi wa salam Baginda Bersabda:
 “Tidak bisa iri hati, kecuali kepada dua seperti orang: yaitu orang lelaki yang diberi Allah swt pengetahuan tentang Al-Quran dan diamalkannya sepanjang malam dan siang; dan orang lelaki yang dianugerahi Allah swt harta, kemudian dia menafkahkannya sepanjang malam dan siang.”
(Riwayat Bukhari & Muslim)

Telah saya sebut pula dari Abdullah bin Mas’ud ra dengan lafaz:
“Tidak bisa iri hati, kecuali kepada dua macam orang: yaitu orang lelaki yang dianugerahi Allah swt harta, kemudian dia membelanjakannya dalam keperluan yang benar. Dan orang lelaki yang dianugerahi Allah swt hikmah (Ilmu), kemudian dia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya.”

Diriwayatkan daripada Abdullah bin Mas’ud ra, katanya: Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam  bersabda:
 “Barangsiapa membaca satu huruf Kitab Allah, maka dia mendapat pahala satu kebaikan sedangkan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, tetapi Alif, satu huruf dan Lam satu huruf serta Mim satu huruf.”
(Riwayat Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi dan katanya: hadits Hasan Shahih)

Diriwayatkan daripada Abu Said Al-Khudri ra daripada Nabi shalallahu 'alaihi wa salam  Baginda bersabda, Allah berfirman:
 “Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Quran dan menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat meminta kepada-KU, maka Aku berikan kepadanya sebiak-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan kalam Allah atas perkataan lainnya adalah seperti, keutamaan Allah atas makhluk-Nya.
(Riwayat Tirmidzi dan katanya: hadits hasan)

Diriayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya: Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
 “Sesungguhnya orang yang tidak terdapat dalam rongga badannya sesuatu dari Al-Quran adalah seperti rumah yang roboh.”
(Riwayat Tirmidzi dan katanya: hadits hasan sahih) 

Diriwayatkan daripada Abdullah bin Amrin Ibnul Ash ra dari pada Nabi shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Dikatakan kepada pembaca Al-Quran, bacalah dan naiklah serta bacalah dengan tartil seperti engkau membacanya di dunia karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.”
(Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’I, Tirmidzi berkata, hadits hasan sahaih)

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Anas ra bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:

 “Barangsiapa membaca Al-Quran dan mengamalkan isinya, Allah memakaikan pada kedua orang tuanya di hari kiamat suatu mahkota yang sinarnya lebih bagus dari pada sinar matahari di rumah-rumah di dunia. Maka bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang mengamalkan ini.”
(Riwayat Abu Dawud)

Ad-Darimi meriwayatkan dengan isnadnya dari Abdullah bin mas’ud daripada Nabi shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Bacalah Al-Quran karena Allah tidak menyiksa hati yang menghayati Al-Quran. Dan sesungguhnya Al-Quran ini adalah jamuan Allah, maka siapa yang masuk di dalamnya, dia pun aman. Dan siapa mencintai Al-Quran, maka berilah kabar gembira.”

Diriwayatkan daripada Abdul Humaidi Al-Hamani, katanya: “Aku bertanya kepada Sufyan Ath-Thauri, manakah yang lebih engkau sukai, orang yang berperang atau orang yang membaca Al-Qur’an?” Sufyan menjawab: “Membaca Al-Qur’an. Karena Nabi saw bersabda. ‘Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Sabtu, 08 April 2017

Ketika Hamba Yang Hina, Lemah, Bodoh, Dzhalim dan Miskin Berani Melupakan dan Melalaikan Kitab-Nya (Al-Qur-an)




Bismillah.Bismillah... semoga coretan kecil ini bisa bermanfaat bagi pembaca.

Berawal dari Ketidak nyamanan hati sehingga merusak segala keadaan, yang diingingkan hanyalah pergi dan jauh dari suasana yang mencekam hati mengganggu pikiran, prasangkaan yang buruk trhadap orang-orang, merasa diri lebih baik dari yang lain, serasa dijauhi orang-orang terdekat, padahal mungkin diri ini lah yang menjauh dan merasa diri paling benar. Suasana yang berbeda, orang-orang yang beda pula, yang seharusnya bisa untuk mewarnai eh malah terwarnai. Walaupun hidup dilingkungan sebuah pesantren tapi ketika sebuah pesantren yang 90% di penuhi oleh orang-orang yang lalai dari mengingat Allah, menentang Allah, melanggar perintah dan larangan Allah, niat dan langkah yang hanya untuk mendapatkan sesuatu yang hina (uang), mengabaikan kitab yang diturunkan oleh-Nya, tidak memprioritaskan sepenuhnnya hidup hanya untuk Allah, maka yang dirasa adalah kekeruhan hati, hati yg terasa bagaikan tanah yang tandus tanah yang kering, seperti tanah yang tidak pernah tergenangi oleh air.
Kenapa?, mengapa,? dan ada apa? sehingga hati terus bertanya-tanya? sadar juga mungkin dari ilmu yang masih kurang, atau mungkin diri ini masih dianggap baru anak kemaren sore yang kurang dari pengalaman untuk menghadapi berbagai terjalnya jalan dalam kebenaran, berlikunya jalan dakwah. Kenapa ketika sebuah prestasi telah diraih, tujuan sudah tercapai, visi misi yang berhasil membentuk diri ini untuk menjadi pencapaian apa yang pesantren inginkan (melahirkan kader), mereka malah murka, malah seakan-akan mereka takut tersaingi, padahal jiwa yang kotor ini adalah hasil didikan mereka, dan mereka pula yang menginginkan jiwa ini bisa membuka jalan orang-orang dalam berbuat kebaikan.
Mengapa yah mungkin mengapa, mengapa saya tidak peka, iyah tidak peka dari semua yang ditakdirkan oleh-Nya, mengapa, mengapa, dan  mengapa diri ini bisa berprasangka sekotor itu, padahal Allah dengan kasih sayangnya sudah mewanti-wanti dalam firman-Nya :“(Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa) artinya, menjerumuskan kepada dosa, jenis prasangka itu cukup banyak, antara lain ialah berburuk sangka kepada orang mukmin yang selalu berbuat baik. Orang-orang mukmin yang selalu berbuat baik itu cukup banyak, berbeda keadaannya dengan orang-orang fasik dari kalangan kaum muslimin, maka tiada dosa bila kita berburuk sangka terhadapnya menyangkut masalah keburukan yang tampak dari mereka (dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain) lafal Tajassasuu pada asalnya adalah Tatajassasuu, lalu salah satu dari kedua huruf Ta dibuang sehingga jadilah Tajassasuu, artinya janganlah kalian mencari-cari aurat dan keaiban mereka dengan cara menyelidikinya (dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain) artinya, janganlah kamu mempergunjingkan dia dengan sesuatu yang tidak diakuinya, sekalipun hal itu benar ada padanya. (Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati?) lafal Maytan dapat pula dibaca Mayyitan; maksudnya tentu saja hal ini tidak layak kalian lakukan. (Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya) maksudnya, mempergunjingkan orang semasa hidupnya sama saja artinya dengan memakan dagingnya sesudah ia mati. Kalian jelas tidak akan menyukainya, oleh karena itu janganlah kalian melakukan hal ini. (Dan bertakwalah kepada Allah) yakni takutlah akan azab-Nya bila kalian hendak mempergunjingkan orang lain, maka dari itu bertobatlah kalian dari perbuatan ini (sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat) yakni selalu menerima tobat orang-orang yang bertobat (lagi Maha Penyayang) kepada mereka yang bertobat. (QS. Al-Hujurrat : 12), (Tafsir Jalalain). Astaghfitulloh... mengapa hati dan pikiran bisa terperdaya oleh bisikan setan sehingga jiwa ini hampir binasa karena berburuk sangka kepada orang-orang shaleh seperti mereka.

Ada apa, ada apa dan ada apa di balik semua ini, ternyata saya sangat menyesali dari kelalaian ini, sumber dari segala kegelisahn hati, kekotoran jiwa, prasangka yang buruk ternyata sumbernya adalah hati yang mulai jauh dan enggan untuk membaca kalam-Nya, hati yang hampir-hampir melupakan al-Qur-an dan hati yang mulai terlena oleh dunia, serta jiwa yang berada dalam kenyamanan. Astaghfirulloh...  Padahal Allah sudah memberitahukan dalam sebuah firman-Nya, bahwa al-Qur-an adalah pedoman hidup dan berita gembira bagi orang-orang mukmin, “untuk petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang beriman” dalam tafsir Ibnu Katsir mengenai firman-Nya ini, yaitu petunjukdan kabar gembira hanya tercapai dari al-Qur-an, yakni bagi orang yang mengimani, mengikuti dan membenarkannya serta mengamalkan isi kandungannya, mendirikan shalat, membayar zakat yang fardhu dan meyakini hari akhirat, hari kebangkitan setelah kematian, balasan berbagai amal perbuatan yang baik dan yang buruk serta meyakini adanya Surga dan Neraka. (QS. An-Naml : 2), (Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 6: Hlm. 197) Astaghfirulloh... Semoga Allah mengampuni dosa dari semua kelalaian ini, mengampuni dosa yang sengaja dan tidak sengaja, mengampuni dosa yang besar maupun kecil, dosa yang sembunyi-sembunyi dan dosa terang-terangan, semoga Allah senantiasa menunjuki setiap jalan kebenaran kepada hamba yang amat lemah, hina, bodoh dan dzhalim ini, semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kami dan menjadikan hati ini yang selalu condong dan terpaut kepada ketaatan kepada-Nya. Aamiin (semoga bermanfaat... “sampaikanlah dariku walau hanya sebuah ayat”)

Beberapa Kesalahan Yang Wajib Di Jauhi Oleh Penuntut Ilmu Syar'i

       
 Seorang penuntut ilmu harus selalu dan senantiasa mengintrospeksi diri dan berusaha untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan dalam dirinya. Diantaranya:

 1. Hasad (Dengki/iri)
 2. Berfatwa tanpa ilmu
 3. Kibr (sombong)
 4. Fanatik kepda madzhab dan pendapat
 5. Merasa Mampu ('Alim) sebelum layak
 6. Bertengkar dan debat kusir
 7. Berlebih - lebihan dalam berpakaian (penampilan)
 8. Terlalu berlebihan dalam makan sehingga akan menyebabkan banyak tidur.

Keutamaan Orang - Orang Yang Berkumpul Untuk Membaca Al-Qur’an Bersama - Sama di Masjid

Apabila berkumpul suatu kaum di salah satu masjid untuk membaca Al Qur’an secara bergantian dan mempelajarinya, niscaya mereka akan diliputi sakinah (ketenangan), diliputi rahmat, dan dinaungi malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain di sisi-Nya. (Muslim No. 3699)





Kalimat “Apabila berkumpul suatu kaum disalah satu masjid untuk membaca Al-Qur’an secara bergantian dan mempelajarinya” menunjukkan keutamaan berkumpul untuk membaca Al-Qur’an bersama-sama di Masjid.

Kata-kata “sakinah” dalam hadits, ada yang berpendapat maksudnya adalah rahmat, akan tetapi pendapat ini lemah karena kata rahmat juga disebutkan dalam hadits ini.

Pada kalimat “Apabila berkumpul suatu kaum” kata “kaum” disebutkan dalam bentuk nakiroh, maksudnya kaum apasaja yang berkumpul untuk melakukan hal seperti itu, akan mendapatkan keutamaan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak mensyaratkan kaum tertentu misalnya ulama, golongan zuhud atau orang-orang yeng berkedudukan terpandang. Makna kalimat “Malaikat menaungi mereka” maksudnya mengelilingi dan mengitari sekelilingnya, seolah-olah para malaikat dekat dengan mereka sehingga menaungi mereka, tidak ada satu celah pun yang dapat disusupi setan. Kalimat “diliputi rahmat “ maksudnya dipayungi rahmat dari segala segi. Syaikh Syihabuddin bin Faraj berkata : “menurut pendapatku diliputi rahmat itu maksudnya ialah dosa-dosa yang telah lalu diampuni, Insya Allah”

Kalimat “Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain disisi-Nya” mengisyaratkan bahwa, Allah menyebutkan nama-nama mereka dilingkungan para Nabi dan para Malaikat yang utama. Wallaahu a’lam

Anjuran Zuhud 2 (HIDUP BAGAIKAN SEORANG PENGEMBARA)


الحديث الأربعون
HADITS KE-40



HIDUP BAGAIKAN SEORANG PENGEMBARA
عن ابن عمر رضي الله عنهما قال أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمنكبي رضي الله عنه فقال - كن في الدنيا كأنك غريب , أو عابر سبيل - وكان ابن عمر رضي الله عنه يقول " إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء وخذ من صحتك لمرضك ومن حياتك لمماتك " رواه البخاري
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam memegang pundakku, lalu bersabda : Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara. Lalu Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata : “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati”.
[Bukhari no. 6416]


Imam Abul Hasan Ali bin Khalaf dalam syarah Bukhari berkata bahwa Abu Zinad berkata : “Hadits ini bermakna menganjurkan agar sedikit bergaul dan sedikit berkumpul dengan banyak orang serta bersikap zuhud kepada dunia”. Abul Hasan berkata : “Maksud dari Hadits ini ialah orang asing biasanya sedikit berkumpul dengan orang lain sehingga dia terasing dari mereka, karena hampir-hampir dia hanya berkumpul dan bergaul dengan orang ini saja. Ia menjadi orang yang merasa lemah dan takut. Begitu pula seorang pengembara, ia hanya mau melakukan perjalanan sebatas kekuatannya. Dia hanya membawa beban yang ringan agar dia tidak terbebani untuk menempuh perjalanannya. Dia hanya membawa bekal dan kendaraan sebatas untuk mencapai tujuannya. Hal ini menunjukkan bahwa sikap zuhud terhadap dunia dimaksudkan untuk dapat sampai kepada tujuan dan mencegah kegagalan, seperti halnya seorang pengembara yang hanya membawa bekal sekadarnya agar sampai ke tempat yang dituju. Begitu pula halnya dengan seorang mukmin dalam kehidupan di dunia ini hanyalah membutuhkan sekadar untuk mencapai tujuan hidupnya.

Al ‘Iz ‘Ala’uddin bin Yahya bin Hubairah berkata : “Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam menganjurkan untuk meniru perilaku orang asing, karena orang asing yang baru tiba di suatu negeri tidaklah mau berlomba di tempat yang disinggahinya dengan penghuninya dan tidak ingin mengejutkan orang lain dengan melakukan hal-hal yang menyalahi kebiasaan mereka misalnya dalam berpakaian, dan tidak pula menginginkan perselisihan dengan mereka. Begitu pula para pengembara tidak mau membuat rumah atau tidak pula mau membuat permusuhan dengan orang lain, karena ia menyadari bahwa dia tinggal bersama mereka hanya beberapa hari. Keadaan orang merantau dan pengembara semacam ini dianjurkan untuk menjadi sikap seorang mukmin ketika hidup di dunia, karena dunia bukan merupakan tanah air bagi dirinya, juga karena dunia membatasi dirinya dari negerinya yang sebenarnya dan menjadi tabir antara dirinya dengan tempat tinggalnya yang abadi.

Adapun perkataan Ibnu Umar “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore” merupakan anjuran agar setiap mukmin senantiasa siap menghadapi kematian, dan kematian itu dihadapi dengan bekal amal shalih. Ia juga menganjurkan untuk mempersedikit angan-angan. Janganlah menunda amal yang dapat dilakukan pada malam hari sampai datang pagi hari, tetapi hendaklah segera dilaksanakan. Begitu pula jika berada di pagi hari, janganlah berbiat menunda sampai datang sore hari dan menunda amal di pagi hari samapi datang malam hari.

Kalimat “pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit” menganjurkan agar mempergunakan saat sehatnya dan berusaha dengan penuh kesungguhan selama masa itu karena khawatir bertemu dengan masa sakit yang dapat merintangi upaya beramal. Begitu pula “waktu hidupmu sebelum kamu mati” mengingatkan agar mempergunakan masa hidupnya, karena angan-angannya lenyap, serta akan muncul penyesalan yang berat karena kelengahannya sampai dia meninggalkan kebaikan. Hendaklah ia menyadari bahwa dia akan menghadapi masa yang panjang di alam kubur tanpa dapat beramal apa-apa dan tidak mungkin dapat mengingat Allah. Oleh karena itu, hendaklah ia memanfaatkan seluruh masa hidupnya itu untuk berbuat kebajikan. Alangkah padatnya Hadits ini, karena mengandung makna-makna yang baik dan sangat berharga.

Sebagian ulama berkata : “Allah mencela angan-angan dan orang yang panjang angan-angan”.
Firman-Nya : “Biarkanlah mereka (orang-orang kafir) makan dan bersenang-senang serta dilengahkan oleh angan-angan, maka kelak mereka akan mengetahui akibatnya”. (QS. 15 : 3)
Ali bin Abu Thalib berkata : “Dunia berjalan meninggalkan (manusia) sedangkan akhirat berjalan menjemput (manusia) dan masing-masingnya punya penggemar, karena itu jadilah kamu penggemar akhirat dan jangan menjadi penggemar dunia. Sesungguhnya masa ini (hidup di dunia) adalah masa beramal bukan masa peradilan, sedangkan besok (hari akhirat) adalah masa peradilan bukan masa beramal”.
Anas berkata bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah membuat beberapa garis, lalu beliau bersabda : “Ini adalah mannusia dan ini adalah angan-angannya dan ini adalah ajalnya ketika ia berada dalam angan-angan tiba-tiba datang kepadanya garisnya yang paling dekat (yaitu ajalnya)”.
Hadits ini memperingatkan agar orang mempersedikit angan-angan karena takut kedatangan ajalnya yang tiba-tiba dan selalu ingat bahwa ajalnya telah dekat. Barang siapa yang mengabaikan ajalnya, maka patutlah dia didatangi ajalnya dengan tiba-tiba dan diserang ketika ia dalam keadaan terperdaya dan lengah, karena manusia itu sering terperdaya oleh angan-angannya.

Abdullah bin Umar berkata : “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam melihat aku ketika aku dan ibuku sedang memperbaiki salah satu pagar milikku. Beliau bertanya:
‘sedang melakukan apa ini wahai Abdullah?’
Saya jawab : ‘Wahai Rasulullah, telah rapuh pagar ini, karena itu kami memperbaikinya’. Lalu beliau bersabda : ‘Kehidupan ini lebih cepat dari rapuhnya pagar ini’.

Kita memohon kepada Allah semoga kita dirahmati dan dijadikan orang yang zuhud terhadap kehidupan dunia dan menjadikan kita bersemangat mengejar apa yang ada di sisi-Nya dan menjadikan kita memperoleh kesenangan di hari kiamat. Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Dermawan, Maha Pemurah, Maha Pengampun dan Maha Belaskasih. Wallahu a’lam

Jumat, 07 April 2017

Anjuran Zuhud “Jadilah kamu di dunia ini laksana orang asing atau pengembara”

           الحديث الحادي والثلاثون
                                                                HADITS KE-31

Dari Abul ‘Abbas, Sahl bin Sa'ad As-Sa'idi radhiallahu 'anhu, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang jika aku mengerjakannya, maka aku dicintai Allah dan dicintai manusia’. Maka sabda beliau : ‘Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Allah mencintaimu dan zuhudlah engkau pada apa yang dicintai manusia, pasti manusia mencintaimu”. (HR. Ibnu Majah dan yang lainnya, Hadits hasan)
[Ibnu Majah no. 4102]


Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menganjurkan supaya menahan diri dari memperbanyak harta dunia dan bersikap zuhud.
Sabda beliau :
“Jadilah kamu di dunia ini laksana orang asing atau pengembara”.

Sabda beliau pula :
“Cinta kepada dunia menjadi pangkal segala perbuatan dosa”.

Sabda beliau ;
“Orang yang zuhud dari segala kesenangan dunia menjadikan hatinya nyaman di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang mencintai dunia hatinya menjadi resah di dunia dan di akhirat”.

Ketahuilah bahwa orang yang tinggal di dunia ini adalah tamu dan kekayaan yang di tangannya adalah pinjaman. Sedangkan tamu itu akan pergi dan barang pinjaman harus dikembalikan. Dunia ini bekal yang bisa digunakan oleh orang baik dan orang jahat. Dunia ini dibenci oleh orang yang mencintai Allah, tetapi dicintai oleh para penggemar dunia. Maka siapa yang bergabung bersama pecinta dunia, dia akan dibenci oleh pecinta Allah.

Beliau menasihatkan kepada penanya agar menjauhkan diri dari menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain. Jika seseorang ingin dicintai lalu meninggalkan kecintaannya kepada dunia, maka mereka tidak mau berebut dan bermusuhan hanya karena mengejar kesenangan dunia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai cita-citanya, maka Allah akan menyatukan kemauannya, hatinya dijadikan merasa kaya dan dunia datang kepadanya dengan memaksa. Sedangkan barang siapa yang bercita-cita mendapatkan dunia, maka Allah menjadikan kemauannya berantakan, kemiskinan senantiasa membayang di pelupuk matanya, dan dunia hanya didapatnya sekadar apa yang telah ditaqdirkan baginya”.

Orang yang beruntung yaitu orang yang memilih kenikmatan abadi daripada kehancuran yang ternyata adzabnya tiada habis-habisnya.
(Hadits Arba'in An Nawawi, Hadits ke 31 (syarag ibnuDaqiqi 'ied))

Amal Itu Tergantung Niatnya


Hadits Ar Ba'in An Nawawi
syarah ibnu Daqiqil 'ied
الحديث الأول
HADITS KE-1
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
[Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]



Hadits ini adalah Hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya, ketinggian derajatnya dan didalamnya banyak mengandung manfaat. Imam Bukhari telah meriwayatkannya pada beberapa bab pada kitab shahihnya, juga Imam Muslim telah meriwayatkan hadits ini pada akhir bab Jihad.
Hadits ini salah satu pokok penting ajaran islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’I berkata : “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu.” Begitu pula kata imam Baihaqi dll. Hal itu karena perbuatan manusia terdiri dari niat didalam hati, ucapan dan tindakan. Sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i, “Hadits ini mencakup tujuh puluh bab fiqih”, sejumlah Ulama’ mengatakan hadits ini mencakup sepertiga ajaran islam.
Para ulama gemar memulai karangan-karangannya dengan mengutip hadits ini. Di antara mereka yang memulai dengan hadits ini pada kitabnya adalah Imam Bukhari. Abdurrahman bin Mahdi berkata : “bagi setiap penulis buku hendaknya memulai tulisannya dengan hadits ini, untuk mengingatkan para pembacanya agar meluruskan niatnya”.
Hadits ini dibanding hadits-hadits yang lain adalah hadits yang sangat terkenal, tetapi dilihat dari sumber sanadnya, hadits ini adalah hadits ahad, karena hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dari Umar hanya diriwayatkan oleh ‘Alqamah bin Abi Waqash, kemudian hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dan selanjutnya hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id Al Anshari, kemudian barulah menjadi terkenal pada perawi selanjutnya. Lebih dari 200 orang rawi yang meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id dan kebanyakan mereka adalah para Imam.
Pertama : Kata “Innamaa” bermakna “hanya/pengecualian” , yaitu menetapkan sesuatu yang disebut dan mengingkari selain yang disebut itu. Kata “hanya” tersebut terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian secara mutlak dan terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian yang terbatas. Untuk membedakan antara dua pengertian ini dapat diketahui dari susunan kalimatnya.
Misalnya, kalimat pada firman Allah : “Innamaa anta mundzirun” (Engkau (Muhammad) hanyalah seorang penyampai ancaman). (QS. Ar-Ra’d : 7)
Kalimat ini secara sepintas menyatakan bahwa tugas Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam hanyalah menyampaikan ancaman dari Allah, tidak mempunyai tugas-tugas lain. Padahal sebenarnya beliau mempunyai banyak sekali tugas, seperti menyampaikan kabar gembira dan lain sebagainya. Begitu juga kalimat pada firman Allah : “Innamal hayatud dunyaa la’ibun walahwun” à “Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan dan permainan”. (QS. Muhammad : 36)
Kalimat ini (wallahu a’lam) menunjukkan pembatasan berkenaan dengan akibat atau dampaknya, apabila dikaitkan dengan hakikat kehidupan dunia, maka kehidupan dapat menjadi wahana berbuat kebaikan. Dengan demikian apabila disebutkan kata “hanya” dalam suatu kalimat, hendaklah diperhatikan betul pengertian yang dimaksudkan.
Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Tentang sabda Rasulullah, “semua amal itu tergantung niatnya” ada perbedaan pendapat para ulama tentang maksud kalimat tersebut. Sebagian memahami niat sebagai syarat sehingga amal tidak sah tanpa niat, sebagian yang lain memahami niat sebagai penyempurna sehingga amal itu akan sempurna apabila ada niat.
Kedua : Kalimat “Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya” oleh Khathabi dijelaskan bahwa kalimat ini menunjukkan pengertian yang berbeda dari sebelumnya. Yaitu menegaskan sah tidaknya amal bergantung pada niatnya. Juga Syaikh Muhyidin An-Nawawi menerangkan bahwa niat menjadi syarat sahnya amal. Sehingga seseorang yang meng-qadha sholat tanpa niat maka tidak sah Sholatnya, walahu a’lam
Ketiga : Kalimat “Dan Barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya” menurut penetapan ahli bahasa Arab, bahwa kalimat syarat dan jawabnya, begitu pula mubtada’ (subyek) dan khabar (predikatnya) haruslah berbeda, sedangkan di kalimat ini sama. Karena itu kalimat syarat bermakna niat atau maksud baik secara bahasa atau syari’at, maksudnya barangsiapa berhijrah dengan niat karena Allah dan Rosul-Nya maka akan mendapat pahala dari hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya.
Hadits ini memang muncul karena adanya seorang lelaki yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mengawini perempuan bernama Ummu Qais. Dia berhijrah tidak untuk mendapatkan pahala hijrah karena itu ia dijuluki Muhajir Ummu Qais. Wallahu a’lam


Kamis, 06 April 2017

Kiat-Kiat Menghafal Al-Qur-an

Alhamdulillahiladzi arsala rosullahu bilhuda wadinilhaq liyudhirohu 'ala ddini kulih wakafa billahi syahida. Asyahaduanla ilaa hailalloh wah dahulaa syarikalah wa asyhaduanna muhammadan 'abduhu warrosuluh lanabiya ba'dah ammaba'du.

Segala Puji hanya milik Allah subhanahu wa ta'ala. Sholawat dan salam semoga senantiasa di limpahkan kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam, kepada keluarga, dan kepada para sahabatnya.

Sahabat sekalian yang dirahmati dan dimuliakan Allah Subhanahu wa ta'ala dahulu menghafalkan al-Qur-an dalam pandangan ulama merupakan hal pokok. Dengannya mereka memulai menuntut ilmu. Karena itulah mereka tidak pernah ragu memulai menghafal al-Qur-an. Hafalannya menjadi ciri khas yang tampak di masyarakat ulama dan penuntut ilmu. Sebagian salaf ada yang menganggap aib karena tidak menghafal al-Qur-an. Diantara buktinya adalah apa yang diungkapkan Ibnu Hajar tentang biografi 'Utsman bin Muhammad bin Abi Syaibah, "dia adalah tsiqah, seorang hafizh yang terkenal, tetapi dia memiliki auham (sejumlah kesalahan) dan dikatakan dia tidak hafal Al-Qur-an." Taqriibut Tahdziib (I/664, no. 4529).

Sesungguhnya menghafal Al-Qur-an bukan sebah kewajiban atas seorang penuntut ilmu, tetapi hafalannya adalah kunci menuju jalan dan pemahaman. hendaklah seorang penuntut ilmu mengetahui bahwa menghafalkan Al-Qur-an dan mengamalkannya dapat menambah ketinggian derajat.
Rasulullah Shalallahu'alaihi wa salam bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala mengangkat (derajat) beberapa kaum dengan Al-Qur-an dan merendahkan yang lainnya dengan Al-Qur-an." Shahih: HR. Muslim (no. 817), dari shahabat Umar bin Khathab ra.

Berikut beberapa hal yang dapat membantu seorang penuntut ilmu dalam menghafal Al-Qur-an :
1. Berdo'a kepada Allah Subhaanahuwata'aalaa dengan ikhlas agar diberikan kemudahan dalam menghafal Al-Qur-an. Dan hendaklah menghafal Al-Qur-an dilakukan dengan ikhlas semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Allah Ta'ala.
2. Memperdengarkan semampunya ayat-ayat yang telah dihafalnya kepada seorang Qari' yang baik dan bacaan dan hafalannya.
3. Mengulang-ulang ayat yang telah dihafal secara terjadwal dan berusaha untuk disiplin.
4. Mengunakan satu mushaf Al-Qur-an agar dapat menguatkan hafalan.
5. Mengulang-ulang ayat yang di hafal sepuluh kali/dua pluh kali - boleh juga lebih - dengan berdiri, duduk dan berjalan kaki.
6. Membaca ayat-ayat yang baru di hafalkakan dalam shalat karena dapat lebih menuatkan dan melekatkan hafalan.
7. Membaca terjemah dan tafsir ayat yang telah dihafalkan.
8. Menjauhi dosa dan maksiat.
     Imam Adh-Dhahak mengatakan, tidaklah seseorang mempelajari Al-Qu-an kemudian ia lupa, melainkan di sebabkan dosa." Beliau lalu membaca firman Allah Subhanahu wa ta'ala, "dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan - kesalahanmu)." (QS. Asy-Syuura: 30)
kemudian beliau melanjutkan, "musibah apakah yang lebih besar daripada melupakan Al-Qur-An?" (Mukhtashar Qiyyamul lail (hlm. 162)
9. Menentukan jadwal yang teratur untuk menentukan batas hafalan harian (apa yang di hafal setiap hari). diusahakan untuk tidak menyelisihi aturan atau mengubahnya, kecuali karena hal - hal yang darurat untuk dilakukan.
10. Hendaknya ayat yang di hafal sedikit setiap hari agar lebih melekat.

      Bagi yang sudah hafal beberapa juz Al- Qur-an atau yang sudah hafal 30 juz, hendaklah ia selalu muraja'ah (mengulang-ulang) hafalannya dan menjaganya dengan baik karenaAl-Qur-an lebih cepat hilangnya daripada unta yang diikat. Rasululah Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "bacalah selalu Al-Qur-an ini. Demi Allah Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh, Al-Qur-an itu lebih mudah lepas daripada seekor unta dalam ikatannya." Shahih HR Bukhari (no. 5033) dan Muslim (no. 791).

Semoga bermanfaat sahabat sekalian... "sampaikanlah dariku walau hanya sebuah ayat".