Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:“Sesungguhnya
orang-orang yang selalu membaca kitab Allah swt dan mendirikan sembahyang dan
menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengaan
diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak
akan merugi. Agar Allah swt menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan
menambah kepada mereka dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah swt Maha Pengampun
lagi Maha Mensyukuri.” (QS Fathiir 35:29-30)
Telah saya sebut dari
Usman bin Affan ra, katanya: Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Sebaik-baik diantara kalian ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan
mengajarkannya.”
(Riwayat Abu Abdillah
Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari dalam shaihnya)
Diriwayatkan daripada
Aisyah ra, katanya: Rasulullahshalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Orang yang
membaca Al-Qur’an sedangkan
dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama
dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca
Al-Qur’an, tetapi
dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya (belum
lancar), dia akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari dan Abul Husain
Muslim bin Al-Hujjaj bin Muslim Al-Qusyaiy An-Nisabury dalam dua kitab Shahih
mereka. (Riwayat Bukhari & Muslim)
Diriwayatkan daripada
Abu Musa Al-Asy’aru ra, katanya: rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Perumpamaan
orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah
seperti buah Utrujjah yang baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang
mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti
buah kurma yang tidak berbau sedang rasanya enak dan manis. Perumpamaan orang
munafik yang membaca Al-Qur’an adalah
seperti raihanah yang baunya harum sedang rasanya pahit. Dan perumpamaan orang
munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah
seperti hanzhalah yang tidak berbau sedang rasanya pahit.”
(Riwayat Bukhari &
Muslim)
Diriwayatkan dari Umar
bin Al-Kattab ra, bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Sesunggunya
Allah swt mengangkat derajat beberapa golongan manusia dengan kalam ini dan
merendahkan derajat golongan lainnya.”
(Riwayat Bukhari &
Muslim)
Diriwayatkan daipada Abu
Umamah ra, katanya: Aku medengar Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Bacalah
Al-Qur’an karena dia
akan datang pada hari Kiamat sebagai juru syafaat bagi pembacanya.”
(Riwayat Muslim)
Diriwayatkan dari pada
Ibnu Umar ra, dari pada Nabi shalallahu 'alaihi wa salam Baginda Bersabda:
“Tidak bisa
iri hati, kecuali kepada dua seperti orang: yaitu orang lelaki yang diberi Allah
swt pengetahuan tentang Al-Qur’an dan
diamalkannya sepanjang malam dan siang; dan orang lelaki yang dianugerahi Allah
swt harta, kemudian dia menafkahkannya sepanjang malam dan siang.”
(Riwayat Bukhari &
Muslim)
Telah saya sebut pula
dari Abdullah bin Mas’ud ra dengan lafaz:
“Tidak bisa
iri hati, kecuali kepada dua macam orang: yaitu orang lelaki yang dianugerahi
Allah swt harta, kemudian dia membelanjakannya dalam keperluan yang benar. Dan
orang lelaki yang dianugerahi Allah swt hikmah (Ilmu), kemudian dia memutuskan
perkara dengannya dan mengajarkannya.”
Diriwayatkan daripada
Abdullah bin Mas’ud ra, katanya: Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Barangsiapa
membaca satu huruf Kitab Allah, maka dia mendapat pahala satu kebaikan sedangkan
satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu
huruf, tetapi Alif, satu huruf dan Lam satu huruf serta Mim satu
huruf.”
(Riwayat Abu Isa
Muhammad bin Isa At-Tirmidzi dan katanya: hadits Hasan Shahih)
Diriwayatkan daripada
Abu Said Al-Khudri ra daripada Nabi shalallahu 'alaihi wa salam Baginda bersabda, Allah
berfirman:
“Barangsiapa
disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan
menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat meminta kepada-KU, maka Aku berikan
kepadanya sebiak-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang-orang yang
meminta. Dan keutamaan kalam Allah atas perkataan lainnya adalah seperti,
keutamaan Allah atas makhluk-Nya.
(Riwayat Tirmidzi dan
katanya: hadits hasan)
Diriayatkan dari Ibnu
Abbas ra, katanya: Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Sesungguhnya
orang yang tidak terdapat dalam rongga badannya sesuatu dari Al-Qur’an adalah
seperti rumah yang roboh.”
(Riwayat Tirmidzi dan
katanya: hadits hasan sahih)
Diriwayatkan daripada
Abdullah bin Amrin Ibnul Ash ra dari pada Nabi shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Dikatakan
kepada pembaca Al-Qur’an, bacalah
dan naiklah serta bacalah dengan tartil seperti engkau membacanya di dunia
karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.”
(Riwayat Abu Dawud,
Tirmidzi dan Nasa’I, Tirmidzi berkata, hadits hasan
sahaih)
Diriwayatkan dari
Mu’adz bin Anas ra bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Barangsiapa
membaca Al-Qur’an dan
mengamalkan isinya, Allah memakaikan pada kedua orang tuanya di hari kiamat
suatu mahkota yang sinarnya lebih bagus dari pada sinar matahari di rumah-rumah
di dunia. Maka bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang mengamalkan
ini.”
(Riwayat Abu
Dawud)
Ad-Darimi meriwayatkan
dengan isnadnya dari Abdullah bin mas’ud daripada Nabi shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Bacalah
Al-Qur’an karena
Allah tidak menyiksa hati yang menghayati Al-Qur’an. Dan
sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah
jamuan Allah, maka siapa yang masuk di dalamnya, dia pun aman. Dan siapa
mencintai Al-Qur’an, maka
berilah kabar gembira.”
Diriwayatkan daripada
Abdul Humaidi Al-Hamani, katanya: “Aku bertanya kepada Sufyan Ath-Thauri,
manakah yang lebih engkau sukai, orang yang berperang atau orang yang membaca
Al-Qur’an?” Sufyan menjawab: “Membaca
Al-Qur’an. Karena Nabi saw bersabda.
‘Orang yang terbaik di antara kamu
adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan
mengajarkannya.”
Generasi Penggenggam Cahaya
Selamat datang di Blog Firdiawan Mursyid "semoga bermanfaat...
Minggu, 09 April 2017
Sabtu, 08 April 2017
Ketika Hamba Yang Hina, Lemah, Bodoh, Dzhalim dan Miskin Berani Melupakan dan Melalaikan Kitab-Nya (Al-Qur-an)
Bismillah.Bismillah... semoga coretan
kecil ini bisa bermanfaat bagi pembaca.
Berawal dari Ketidak nyamanan hati sehingga merusak segala keadaan, yang
diingingkan hanyalah pergi dan jauh dari suasana yang mencekam hati mengganggu
pikiran, prasangkaan yang buruk trhadap orang-orang, merasa diri lebih baik
dari yang lain, serasa dijauhi orang-orang terdekat, padahal mungkin diri ini
lah yang menjauh dan merasa diri paling benar. Suasana yang berbeda,
orang-orang yang beda pula, yang seharusnya bisa untuk mewarnai eh malah
terwarnai. Walaupun hidup dilingkungan sebuah pesantren tapi ketika sebuah
pesantren yang 90% di penuhi oleh orang-orang yang lalai dari mengingat Allah,
menentang Allah, melanggar perintah dan larangan Allah, niat dan langkah yang
hanya untuk mendapatkan sesuatu yang hina (uang), mengabaikan kitab yang
diturunkan oleh-Nya, tidak memprioritaskan sepenuhnnya hidup hanya untuk Allah,
maka yang dirasa adalah kekeruhan hati, hati yg terasa bagaikan tanah yang
tandus tanah yang kering, seperti tanah yang tidak pernah tergenangi oleh air.
Kenapa?, mengapa,? dan
ada apa? sehingga hati terus bertanya-tanya? sadar juga mungkin
dari ilmu yang masih kurang, atau mungkin diri ini masih dianggap baru anak
kemaren sore yang kurang dari pengalaman untuk menghadapi berbagai terjalnya
jalan dalam kebenaran, berlikunya jalan dakwah. Kenapa ketika sebuah prestasi
telah diraih, tujuan sudah tercapai, visi misi yang berhasil membentuk diri ini
untuk menjadi pencapaian apa yang pesantren inginkan (melahirkan kader), mereka
malah murka, malah seakan-akan mereka takut tersaingi, padahal jiwa yang kotor
ini adalah hasil didikan mereka, dan mereka pula yang menginginkan jiwa ini
bisa membuka jalan orang-orang dalam berbuat kebaikan.
Mengapa yah
mungkin mengapa, mengapa saya tidak peka, iyah tidak peka dari semua yang
ditakdirkan oleh-Nya, mengapa, mengapa, dan mengapa diri ini bisa berprasangka sekotor
itu, padahal Allah dengan kasih sayangnya sudah mewanti-wanti dalam firman-Nya
:“(Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa) artinya, menjerumuskan kepada
dosa, jenis prasangka itu cukup banyak, antara lain ialah berburuk sangka
kepada orang mukmin yang selalu berbuat baik. Orang-orang mukmin yang selalu
berbuat baik itu cukup banyak, berbeda keadaannya dengan orang-orang fasik dari
kalangan kaum muslimin, maka tiada dosa bila kita berburuk sangka terhadapnya
menyangkut masalah keburukan yang tampak dari mereka (dan janganlah kalian
mencari-cari kesalahan orang lain) lafal Tajassasuu pada asalnya adalah
Tatajassasuu, lalu salah satu dari kedua huruf Ta dibuang sehingga jadilah
Tajassasuu, artinya janganlah kalian mencari-cari aurat dan keaiban mereka
dengan cara menyelidikinya (dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian
yang lain) artinya, janganlah kamu mempergunjingkan dia dengan sesuatu yang
tidak diakuinya, sekalipun hal itu benar ada padanya. (Sukakah salah seorang di
antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati?) lafal Maytan dapat
pula dibaca Mayyitan; maksudnya tentu saja hal ini tidak layak kalian lakukan.
(Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya) maksudnya, mempergunjingkan orang
semasa hidupnya sama saja artinya dengan memakan dagingnya sesudah ia mati.
Kalian jelas tidak akan menyukainya, oleh karena itu janganlah kalian melakukan
hal ini. (Dan bertakwalah kepada Allah) yakni takutlah akan azab-Nya bila
kalian hendak mempergunjingkan orang lain, maka dari itu bertobatlah kalian
dari perbuatan ini (sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat) yakni selalu
menerima tobat orang-orang yang bertobat (lagi Maha Penyayang) kepada mereka
yang bertobat. (QS. Al-Hujurrat : 12), (Tafsir Jalalain). Astaghfitulloh...
mengapa hati dan pikiran bisa terperdaya oleh bisikan setan sehingga jiwa ini
hampir binasa karena berburuk sangka kepada orang-orang shaleh seperti mereka.
Ada apa, ada
apa dan ada apa di balik semua ini, ternyata saya sangat menyesali dari
kelalaian ini, sumber dari segala kegelisahn hati, kekotoran jiwa, prasangka yang
buruk ternyata sumbernya adalah hati yang mulai jauh dan enggan untuk membaca
kalam-Nya, hati yang hampir-hampir melupakan al-Qur-an dan hati yang mulai
terlena oleh dunia, serta jiwa yang berada dalam kenyamanan. Astaghfirulloh... Padahal Allah sudah memberitahukan dalam
sebuah firman-Nya, bahwa al-Qur-an adalah pedoman hidup dan berita gembira bagi
orang-orang mukmin, “untuk petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang beriman”
dalam tafsir Ibnu Katsir mengenai firman-Nya ini, yaitu petunjukdan kabar
gembira hanya tercapai dari al-Qur-an, yakni bagi orang yang mengimani,
mengikuti dan membenarkannya serta mengamalkan isi kandungannya, mendirikan
shalat, membayar zakat yang fardhu dan meyakini hari akhirat, hari kebangkitan
setelah kematian, balasan berbagai amal perbuatan yang baik dan yang buruk
serta meyakini adanya Surga dan Neraka. (QS. An-Naml : 2), (Tafsir Ibnu Katsir.
Jilid 6: Hlm. 197) Astaghfirulloh... Semoga Allah mengampuni dosa dari semua
kelalaian ini, mengampuni dosa yang sengaja dan tidak sengaja, mengampuni dosa
yang besar maupun kecil, dosa yang sembunyi-sembunyi dan dosa terang-terangan,
semoga Allah senantiasa menunjuki setiap jalan kebenaran kepada hamba yang amat
lemah, hina, bodoh dan dzhalim ini, semoga Allah senantiasa memberikan hidayah
kepada kami dan menjadikan hati ini yang selalu condong dan terpaut kepada
ketaatan kepada-Nya. Aamiin (semoga bermanfaat... “sampaikanlah dariku walau
hanya sebuah ayat”)
Beberapa Kesalahan Yang Wajib Di Jauhi Oleh Penuntut Ilmu Syar'i
Seorang penuntut ilmu harus selalu dan senantiasa mengintrospeksi diri dan berusaha untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan dalam dirinya. Diantaranya:
1. Hasad (Dengki/iri)
2. Berfatwa tanpa ilmu
3. Kibr (sombong)
4. Fanatik kepda madzhab dan pendapat
5. Merasa Mampu ('Alim) sebelum layak
6. Bertengkar dan debat kusir
7. Berlebih - lebihan dalam berpakaian (penampilan)
8. Terlalu berlebihan dalam makan sehingga akan menyebabkan banyak tidur.
Keutamaan Orang - Orang Yang Berkumpul Untuk Membaca Al-Qur’an Bersama - Sama di Masjid
Apabila berkumpul suatu kaum di salah satu masjid untuk membaca Al Qur’an secara
bergantian dan mempelajarinya, niscaya mereka akan diliputi sakinah
(ketenangan), diliputi rahmat, dan dinaungi malaikat, dan Allah menyebut
nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain di sisi-Nya. (Muslim No. 3699)
Kalimat “Apabila berkumpul suatu kaum disalah satu masjid untuk membaca Al-Qur’an secara bergantian dan mempelajarinya” menunjukkan keutamaan berkumpul untuk membaca Al-Qur’an bersama-sama di Masjid.
Kata-kata “sakinah” dalam hadits, ada yang berpendapat maksudnya adalah rahmat, akan tetapi pendapat ini lemah karena kata rahmat juga disebutkan dalam hadits ini.
Pada kalimat “Apabila berkumpul suatu kaum” kata “kaum” disebutkan dalam bentuk nakiroh, maksudnya kaum apasaja yang berkumpul untuk melakukan hal seperti itu, akan mendapatkan keutamaan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak mensyaratkan kaum tertentu misalnya ulama, golongan zuhud atau orang-orang yeng berkedudukan terpandang. Makna kalimat “Malaikat menaungi mereka” maksudnya mengelilingi dan mengitari sekelilingnya, seolah-olah para malaikat dekat dengan mereka sehingga menaungi mereka, tidak ada satu celah pun yang dapat disusupi setan. Kalimat “diliputi rahmat “ maksudnya dipayungi rahmat dari segala segi. Syaikh Syihabuddin bin Faraj berkata : “menurut pendapatku diliputi rahmat itu maksudnya ialah dosa-dosa yang telah lalu diampuni, Insya Allah”
Kalimat “Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain disisi-Nya” mengisyaratkan bahwa, Allah menyebutkan nama-nama mereka dilingkungan para Nabi dan para Malaikat yang utama. Wallaahu a’lam
Kalimat “Apabila berkumpul suatu kaum disalah satu masjid untuk membaca Al-Qur’an secara bergantian dan mempelajarinya” menunjukkan keutamaan berkumpul untuk membaca Al-Qur’an bersama-sama di Masjid.
Kata-kata “sakinah” dalam hadits, ada yang berpendapat maksudnya adalah rahmat, akan tetapi pendapat ini lemah karena kata rahmat juga disebutkan dalam hadits ini.
Pada kalimat “Apabila berkumpul suatu kaum” kata “kaum” disebutkan dalam bentuk nakiroh, maksudnya kaum apasaja yang berkumpul untuk melakukan hal seperti itu, akan mendapatkan keutamaan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak mensyaratkan kaum tertentu misalnya ulama, golongan zuhud atau orang-orang yeng berkedudukan terpandang. Makna kalimat “Malaikat menaungi mereka” maksudnya mengelilingi dan mengitari sekelilingnya, seolah-olah para malaikat dekat dengan mereka sehingga menaungi mereka, tidak ada satu celah pun yang dapat disusupi setan. Kalimat “diliputi rahmat “ maksudnya dipayungi rahmat dari segala segi. Syaikh Syihabuddin bin Faraj berkata : “menurut pendapatku diliputi rahmat itu maksudnya ialah dosa-dosa yang telah lalu diampuni, Insya Allah”
Kalimat “Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain disisi-Nya” mengisyaratkan bahwa, Allah menyebutkan nama-nama mereka dilingkungan para Nabi dan para Malaikat yang utama. Wallaahu a’lam
Anjuran Zuhud 2 (HIDUP BAGAIKAN SEORANG PENGEMBARA)
HADITS KE-40
| HIDUP BAGAIKAN SEORANG PENGEMBARA | |
| عن ابن عمر رضي الله عنهما قال أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمنكبي رضي الله عنه فقال - كن في الدنيا كأنك غريب , أو عابر سبيل - وكان ابن عمر رضي الله عنه يقول " إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء وخذ من صحتك لمرضك ومن حياتك لمماتك " رواه البخاري | |
|
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, ia berkata : “Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa Sallam memegang pundakku, lalu bersabda : Jadilah engkau
di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara. Lalu Ibnu Umar
radhiyallahu anhuma berkata : “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau
menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore dan
pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu
mati”.
[Bukhari no. 6416] | |
|
Jumat, 07 April 2017
Anjuran Zuhud “Jadilah kamu di dunia ini laksana orang asing atau pengembara”
الحديث الحادي والثلاثون
HADITS KE-31 Dari Abul ‘Abbas, Sahl bin Sa'ad As-Sa'idi radhiallahu 'anhu, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang jika aku mengerjakannya, maka aku dicintai Allah dan dicintai manusia’. Maka sabda beliau : ‘Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Allah mencintaimu dan zuhudlah engkau pada apa yang dicintai manusia, pasti manusia mencintaimu”. (HR. Ibnu Majah dan yang lainnya, Hadits hasan) | |
|
Amal Itu Tergantung Niatnya
Hadits Ar Ba'in An Nawawi
syarah ibnu Daqiqil 'ied
الحديث الأول
HADITS KE-1
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab
radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya
mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan
Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang
hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan
dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
[Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad
bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan
Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam
kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1
dan Muslim no. 1907] | |
|
Kamis, 06 April 2017
Kiat-Kiat Menghafal Al-Qur-an
Alhamdulillahiladzi arsala rosullahu bilhuda wadinilhaq liyudhirohu 'ala ddini kulih wakafa billahi syahida. Asyahaduanla ilaa hailalloh wah dahulaa syarikalah wa asyhaduanna muhammadan 'abduhu warrosuluh lanabiya ba'dah ammaba'du.
Segala Puji hanya milik Allah subhanahu wa ta'ala. Sholawat dan salam semoga senantiasa di limpahkan kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam, kepada keluarga, dan kepada para sahabatnya.
Sahabat sekalian yang dirahmati dan dimuliakan Allah Subhanahu wa ta'ala dahulu menghafalkan al-Qur-an dalam pandangan ulama merupakan hal pokok. Dengannya mereka memulai menuntut ilmu. Karena itulah mereka tidak pernah ragu memulai menghafal al-Qur-an. Hafalannya menjadi ciri khas yang tampak di masyarakat ulama dan penuntut ilmu. Sebagian salaf ada yang menganggap aib karena tidak menghafal al-Qur-an. Diantara buktinya adalah apa yang diungkapkan Ibnu Hajar tentang biografi 'Utsman bin Muhammad bin Abi Syaibah, "dia adalah tsiqah, seorang hafizh yang terkenal, tetapi dia memiliki auham (sejumlah kesalahan) dan dikatakan dia tidak hafal Al-Qur-an." Taqriibut Tahdziib (I/664, no. 4529).
Sesungguhnya menghafal Al-Qur-an bukan sebah kewajiban atas seorang penuntut ilmu, tetapi hafalannya adalah kunci menuju jalan dan pemahaman. hendaklah seorang penuntut ilmu mengetahui bahwa menghafalkan Al-Qur-an dan mengamalkannya dapat menambah ketinggian derajat.
Rasulullah Shalallahu'alaihi wa salam bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala mengangkat (derajat) beberapa kaum dengan Al-Qur-an dan merendahkan yang lainnya dengan Al-Qur-an." Shahih: HR. Muslim (no. 817), dari shahabat Umar bin Khathab ra.
Berikut beberapa hal yang dapat membantu seorang penuntut ilmu dalam menghafal Al-Qur-an :
1. Berdo'a kepada Allah Subhaanahuwata'aalaa dengan ikhlas agar diberikan kemudahan dalam menghafal Al-Qur-an. Dan hendaklah menghafal Al-Qur-an dilakukan dengan ikhlas semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Allah Ta'ala.
2. Memperdengarkan semampunya ayat-ayat yang telah dihafalnya kepada seorang Qari' yang baik dan bacaan dan hafalannya.
3. Mengulang-ulang ayat yang telah dihafal secara terjadwal dan berusaha untuk disiplin.
4. Mengunakan satu mushaf Al-Qur-an agar dapat menguatkan hafalan.
5. Mengulang-ulang ayat yang di hafal sepuluh kali/dua pluh kali - boleh juga lebih - dengan berdiri, duduk dan berjalan kaki.
6. Membaca ayat-ayat yang baru di hafalkakan dalam shalat karena dapat lebih menuatkan dan melekatkan hafalan.
7. Membaca terjemah dan tafsir ayat yang telah dihafalkan.
8. Menjauhi dosa dan maksiat.
Imam Adh-Dhahak mengatakan, tidaklah seseorang mempelajari Al-Qu-an kemudian ia lupa, melainkan di sebabkan dosa." Beliau lalu membaca firman Allah Subhanahu wa ta'ala, "dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan - kesalahanmu)." (QS. Asy-Syuura: 30)
kemudian beliau melanjutkan, "musibah apakah yang lebih besar daripada melupakan Al-Qur-An?" (Mukhtashar Qiyyamul lail (hlm. 162)
9. Menentukan jadwal yang teratur untuk menentukan batas hafalan harian (apa yang di hafal setiap hari). diusahakan untuk tidak menyelisihi aturan atau mengubahnya, kecuali karena hal - hal yang darurat untuk dilakukan.
10. Hendaknya ayat yang di hafal sedikit setiap hari agar lebih melekat.
Bagi yang sudah hafal beberapa juz Al- Qur-an atau yang sudah hafal 30 juz, hendaklah ia selalu muraja'ah (mengulang-ulang) hafalannya dan menjaganya dengan baik karenaAl-Qur-an lebih cepat hilangnya daripada unta yang diikat. Rasululah Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "bacalah selalu Al-Qur-an ini. Demi Allah Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh, Al-Qur-an itu lebih mudah lepas daripada seekor unta dalam ikatannya." Shahih HR Bukhari (no. 5033) dan Muslim (no. 791).
Semoga bermanfaat sahabat sekalian... "sampaikanlah dariku walau hanya sebuah ayat".
Segala Puji hanya milik Allah subhanahu wa ta'ala. Sholawat dan salam semoga senantiasa di limpahkan kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam, kepada keluarga, dan kepada para sahabatnya.
Sahabat sekalian yang dirahmati dan dimuliakan Allah Subhanahu wa ta'ala dahulu menghafalkan al-Qur-an dalam pandangan ulama merupakan hal pokok. Dengannya mereka memulai menuntut ilmu. Karena itulah mereka tidak pernah ragu memulai menghafal al-Qur-an. Hafalannya menjadi ciri khas yang tampak di masyarakat ulama dan penuntut ilmu. Sebagian salaf ada yang menganggap aib karena tidak menghafal al-Qur-an. Diantara buktinya adalah apa yang diungkapkan Ibnu Hajar tentang biografi 'Utsman bin Muhammad bin Abi Syaibah, "dia adalah tsiqah, seorang hafizh yang terkenal, tetapi dia memiliki auham (sejumlah kesalahan) dan dikatakan dia tidak hafal Al-Qur-an." Taqriibut Tahdziib (I/664, no. 4529).
Sesungguhnya menghafal Al-Qur-an bukan sebah kewajiban atas seorang penuntut ilmu, tetapi hafalannya adalah kunci menuju jalan dan pemahaman. hendaklah seorang penuntut ilmu mengetahui bahwa menghafalkan Al-Qur-an dan mengamalkannya dapat menambah ketinggian derajat.
Rasulullah Shalallahu'alaihi wa salam bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala mengangkat (derajat) beberapa kaum dengan Al-Qur-an dan merendahkan yang lainnya dengan Al-Qur-an." Shahih: HR. Muslim (no. 817), dari shahabat Umar bin Khathab ra.
Berikut beberapa hal yang dapat membantu seorang penuntut ilmu dalam menghafal Al-Qur-an :
1. Berdo'a kepada Allah Subhaanahuwata'aalaa dengan ikhlas agar diberikan kemudahan dalam menghafal Al-Qur-an. Dan hendaklah menghafal Al-Qur-an dilakukan dengan ikhlas semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Allah Ta'ala.
2. Memperdengarkan semampunya ayat-ayat yang telah dihafalnya kepada seorang Qari' yang baik dan bacaan dan hafalannya.
3. Mengulang-ulang ayat yang telah dihafal secara terjadwal dan berusaha untuk disiplin.
4. Mengunakan satu mushaf Al-Qur-an agar dapat menguatkan hafalan.
5. Mengulang-ulang ayat yang di hafal sepuluh kali/dua pluh kali - boleh juga lebih - dengan berdiri, duduk dan berjalan kaki.
6. Membaca ayat-ayat yang baru di hafalkakan dalam shalat karena dapat lebih menuatkan dan melekatkan hafalan.
7. Membaca terjemah dan tafsir ayat yang telah dihafalkan.
8. Menjauhi dosa dan maksiat.
Imam Adh-Dhahak mengatakan, tidaklah seseorang mempelajari Al-Qu-an kemudian ia lupa, melainkan di sebabkan dosa." Beliau lalu membaca firman Allah Subhanahu wa ta'ala, "dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan - kesalahanmu)." (QS. Asy-Syuura: 30)
kemudian beliau melanjutkan, "musibah apakah yang lebih besar daripada melupakan Al-Qur-An?" (Mukhtashar Qiyyamul lail (hlm. 162)
9. Menentukan jadwal yang teratur untuk menentukan batas hafalan harian (apa yang di hafal setiap hari). diusahakan untuk tidak menyelisihi aturan atau mengubahnya, kecuali karena hal - hal yang darurat untuk dilakukan.
10. Hendaknya ayat yang di hafal sedikit setiap hari agar lebih melekat.
Bagi yang sudah hafal beberapa juz Al- Qur-an atau yang sudah hafal 30 juz, hendaklah ia selalu muraja'ah (mengulang-ulang) hafalannya dan menjaganya dengan baik karenaAl-Qur-an lebih cepat hilangnya daripada unta yang diikat. Rasululah Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "bacalah selalu Al-Qur-an ini. Demi Allah Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh, Al-Qur-an itu lebih mudah lepas daripada seekor unta dalam ikatannya." Shahih HR Bukhari (no. 5033) dan Muslim (no. 791).
Semoga bermanfaat sahabat sekalian... "sampaikanlah dariku walau hanya sebuah ayat".
Langganan:
Postingan (Atom)







