Bismillah.Bismillah... semoga coretan
kecil ini bisa bermanfaat bagi pembaca.
Berawal dari Ketidak nyamanan hati sehingga merusak segala keadaan, yang
diingingkan hanyalah pergi dan jauh dari suasana yang mencekam hati mengganggu
pikiran, prasangkaan yang buruk trhadap orang-orang, merasa diri lebih baik
dari yang lain, serasa dijauhi orang-orang terdekat, padahal mungkin diri ini
lah yang menjauh dan merasa diri paling benar. Suasana yang berbeda,
orang-orang yang beda pula, yang seharusnya bisa untuk mewarnai eh malah
terwarnai. Walaupun hidup dilingkungan sebuah pesantren tapi ketika sebuah
pesantren yang 90% di penuhi oleh orang-orang yang lalai dari mengingat Allah,
menentang Allah, melanggar perintah dan larangan Allah, niat dan langkah yang
hanya untuk mendapatkan sesuatu yang hina (uang), mengabaikan kitab yang
diturunkan oleh-Nya, tidak memprioritaskan sepenuhnnya hidup hanya untuk Allah,
maka yang dirasa adalah kekeruhan hati, hati yg terasa bagaikan tanah yang
tandus tanah yang kering, seperti tanah yang tidak pernah tergenangi oleh air.
Kenapa?, mengapa,? dan
ada apa? sehingga hati terus bertanya-tanya? sadar juga mungkin
dari ilmu yang masih kurang, atau mungkin diri ini masih dianggap baru anak
kemaren sore yang kurang dari pengalaman untuk menghadapi berbagai terjalnya
jalan dalam kebenaran, berlikunya jalan dakwah. Kenapa ketika sebuah prestasi
telah diraih, tujuan sudah tercapai, visi misi yang berhasil membentuk diri ini
untuk menjadi pencapaian apa yang pesantren inginkan (melahirkan kader), mereka
malah murka, malah seakan-akan mereka takut tersaingi, padahal jiwa yang kotor
ini adalah hasil didikan mereka, dan mereka pula yang menginginkan jiwa ini
bisa membuka jalan orang-orang dalam berbuat kebaikan.
Mengapa yah
mungkin mengapa, mengapa saya tidak peka, iyah tidak peka dari semua yang
ditakdirkan oleh-Nya, mengapa, mengapa, dan mengapa diri ini bisa berprasangka sekotor
itu, padahal Allah dengan kasih sayangnya sudah mewanti-wanti dalam firman-Nya
:“(Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa) artinya, menjerumuskan kepada
dosa, jenis prasangka itu cukup banyak, antara lain ialah berburuk sangka
kepada orang mukmin yang selalu berbuat baik. Orang-orang mukmin yang selalu
berbuat baik itu cukup banyak, berbeda keadaannya dengan orang-orang fasik dari
kalangan kaum muslimin, maka tiada dosa bila kita berburuk sangka terhadapnya
menyangkut masalah keburukan yang tampak dari mereka (dan janganlah kalian
mencari-cari kesalahan orang lain) lafal Tajassasuu pada asalnya adalah
Tatajassasuu, lalu salah satu dari kedua huruf Ta dibuang sehingga jadilah
Tajassasuu, artinya janganlah kalian mencari-cari aurat dan keaiban mereka
dengan cara menyelidikinya (dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian
yang lain) artinya, janganlah kamu mempergunjingkan dia dengan sesuatu yang
tidak diakuinya, sekalipun hal itu benar ada padanya. (Sukakah salah seorang di
antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati?) lafal Maytan dapat
pula dibaca Mayyitan; maksudnya tentu saja hal ini tidak layak kalian lakukan.
(Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya) maksudnya, mempergunjingkan orang
semasa hidupnya sama saja artinya dengan memakan dagingnya sesudah ia mati.
Kalian jelas tidak akan menyukainya, oleh karena itu janganlah kalian melakukan
hal ini. (Dan bertakwalah kepada Allah) yakni takutlah akan azab-Nya bila
kalian hendak mempergunjingkan orang lain, maka dari itu bertobatlah kalian
dari perbuatan ini (sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat) yakni selalu
menerima tobat orang-orang yang bertobat (lagi Maha Penyayang) kepada mereka
yang bertobat. (QS. Al-Hujurrat : 12), (Tafsir Jalalain). Astaghfitulloh...
mengapa hati dan pikiran bisa terperdaya oleh bisikan setan sehingga jiwa ini
hampir binasa karena berburuk sangka kepada orang-orang shaleh seperti mereka.
Ada apa, ada
apa dan ada apa di balik semua ini, ternyata saya sangat menyesali dari
kelalaian ini, sumber dari segala kegelisahn hati, kekotoran jiwa, prasangka yang
buruk ternyata sumbernya adalah hati yang mulai jauh dan enggan untuk membaca
kalam-Nya, hati yang hampir-hampir melupakan al-Qur-an dan hati yang mulai
terlena oleh dunia, serta jiwa yang berada dalam kenyamanan. Astaghfirulloh... Padahal Allah sudah memberitahukan dalam
sebuah firman-Nya, bahwa al-Qur-an adalah pedoman hidup dan berita gembira bagi
orang-orang mukmin, “untuk petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang beriman”
dalam tafsir Ibnu Katsir mengenai firman-Nya ini, yaitu petunjukdan kabar
gembira hanya tercapai dari al-Qur-an, yakni bagi orang yang mengimani,
mengikuti dan membenarkannya serta mengamalkan isi kandungannya, mendirikan
shalat, membayar zakat yang fardhu dan meyakini hari akhirat, hari kebangkitan
setelah kematian, balasan berbagai amal perbuatan yang baik dan yang buruk
serta meyakini adanya Surga dan Neraka. (QS. An-Naml : 2), (Tafsir Ibnu Katsir.
Jilid 6: Hlm. 197) Astaghfirulloh... Semoga Allah mengampuni dosa dari semua
kelalaian ini, mengampuni dosa yang sengaja dan tidak sengaja, mengampuni dosa
yang besar maupun kecil, dosa yang sembunyi-sembunyi dan dosa terang-terangan,
semoga Allah senantiasa menunjuki setiap jalan kebenaran kepada hamba yang amat
lemah, hina, bodoh dan dzhalim ini, semoga Allah senantiasa memberikan hidayah
kepada kami dan menjadikan hati ini yang selalu condong dan terpaut kepada
ketaatan kepada-Nya. Aamiin (semoga bermanfaat... “sampaikanlah dariku walau
hanya sebuah ayat”)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar