Sabtu, 08 April 2017

Ketika Hamba Yang Hina, Lemah, Bodoh, Dzhalim dan Miskin Berani Melupakan dan Melalaikan Kitab-Nya (Al-Qur-an)




Bismillah.Bismillah... semoga coretan kecil ini bisa bermanfaat bagi pembaca.

Berawal dari Ketidak nyamanan hati sehingga merusak segala keadaan, yang diingingkan hanyalah pergi dan jauh dari suasana yang mencekam hati mengganggu pikiran, prasangkaan yang buruk trhadap orang-orang, merasa diri lebih baik dari yang lain, serasa dijauhi orang-orang terdekat, padahal mungkin diri ini lah yang menjauh dan merasa diri paling benar. Suasana yang berbeda, orang-orang yang beda pula, yang seharusnya bisa untuk mewarnai eh malah terwarnai. Walaupun hidup dilingkungan sebuah pesantren tapi ketika sebuah pesantren yang 90% di penuhi oleh orang-orang yang lalai dari mengingat Allah, menentang Allah, melanggar perintah dan larangan Allah, niat dan langkah yang hanya untuk mendapatkan sesuatu yang hina (uang), mengabaikan kitab yang diturunkan oleh-Nya, tidak memprioritaskan sepenuhnnya hidup hanya untuk Allah, maka yang dirasa adalah kekeruhan hati, hati yg terasa bagaikan tanah yang tandus tanah yang kering, seperti tanah yang tidak pernah tergenangi oleh air.
Kenapa?, mengapa,? dan ada apa? sehingga hati terus bertanya-tanya? sadar juga mungkin dari ilmu yang masih kurang, atau mungkin diri ini masih dianggap baru anak kemaren sore yang kurang dari pengalaman untuk menghadapi berbagai terjalnya jalan dalam kebenaran, berlikunya jalan dakwah. Kenapa ketika sebuah prestasi telah diraih, tujuan sudah tercapai, visi misi yang berhasil membentuk diri ini untuk menjadi pencapaian apa yang pesantren inginkan (melahirkan kader), mereka malah murka, malah seakan-akan mereka takut tersaingi, padahal jiwa yang kotor ini adalah hasil didikan mereka, dan mereka pula yang menginginkan jiwa ini bisa membuka jalan orang-orang dalam berbuat kebaikan.
Mengapa yah mungkin mengapa, mengapa saya tidak peka, iyah tidak peka dari semua yang ditakdirkan oleh-Nya, mengapa, mengapa, dan  mengapa diri ini bisa berprasangka sekotor itu, padahal Allah dengan kasih sayangnya sudah mewanti-wanti dalam firman-Nya :“(Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa) artinya, menjerumuskan kepada dosa, jenis prasangka itu cukup banyak, antara lain ialah berburuk sangka kepada orang mukmin yang selalu berbuat baik. Orang-orang mukmin yang selalu berbuat baik itu cukup banyak, berbeda keadaannya dengan orang-orang fasik dari kalangan kaum muslimin, maka tiada dosa bila kita berburuk sangka terhadapnya menyangkut masalah keburukan yang tampak dari mereka (dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain) lafal Tajassasuu pada asalnya adalah Tatajassasuu, lalu salah satu dari kedua huruf Ta dibuang sehingga jadilah Tajassasuu, artinya janganlah kalian mencari-cari aurat dan keaiban mereka dengan cara menyelidikinya (dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain) artinya, janganlah kamu mempergunjingkan dia dengan sesuatu yang tidak diakuinya, sekalipun hal itu benar ada padanya. (Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati?) lafal Maytan dapat pula dibaca Mayyitan; maksudnya tentu saja hal ini tidak layak kalian lakukan. (Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya) maksudnya, mempergunjingkan orang semasa hidupnya sama saja artinya dengan memakan dagingnya sesudah ia mati. Kalian jelas tidak akan menyukainya, oleh karena itu janganlah kalian melakukan hal ini. (Dan bertakwalah kepada Allah) yakni takutlah akan azab-Nya bila kalian hendak mempergunjingkan orang lain, maka dari itu bertobatlah kalian dari perbuatan ini (sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat) yakni selalu menerima tobat orang-orang yang bertobat (lagi Maha Penyayang) kepada mereka yang bertobat. (QS. Al-Hujurrat : 12), (Tafsir Jalalain). Astaghfitulloh... mengapa hati dan pikiran bisa terperdaya oleh bisikan setan sehingga jiwa ini hampir binasa karena berburuk sangka kepada orang-orang shaleh seperti mereka.

Ada apa, ada apa dan ada apa di balik semua ini, ternyata saya sangat menyesali dari kelalaian ini, sumber dari segala kegelisahn hati, kekotoran jiwa, prasangka yang buruk ternyata sumbernya adalah hati yang mulai jauh dan enggan untuk membaca kalam-Nya, hati yang hampir-hampir melupakan al-Qur-an dan hati yang mulai terlena oleh dunia, serta jiwa yang berada dalam kenyamanan. Astaghfirulloh...  Padahal Allah sudah memberitahukan dalam sebuah firman-Nya, bahwa al-Qur-an adalah pedoman hidup dan berita gembira bagi orang-orang mukmin, “untuk petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang beriman” dalam tafsir Ibnu Katsir mengenai firman-Nya ini, yaitu petunjukdan kabar gembira hanya tercapai dari al-Qur-an, yakni bagi orang yang mengimani, mengikuti dan membenarkannya serta mengamalkan isi kandungannya, mendirikan shalat, membayar zakat yang fardhu dan meyakini hari akhirat, hari kebangkitan setelah kematian, balasan berbagai amal perbuatan yang baik dan yang buruk serta meyakini adanya Surga dan Neraka. (QS. An-Naml : 2), (Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 6: Hlm. 197) Astaghfirulloh... Semoga Allah mengampuni dosa dari semua kelalaian ini, mengampuni dosa yang sengaja dan tidak sengaja, mengampuni dosa yang besar maupun kecil, dosa yang sembunyi-sembunyi dan dosa terang-terangan, semoga Allah senantiasa menunjuki setiap jalan kebenaran kepada hamba yang amat lemah, hina, bodoh dan dzhalim ini, semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kami dan menjadikan hati ini yang selalu condong dan terpaut kepada ketaatan kepada-Nya. Aamiin (semoga bermanfaat... “sampaikanlah dariku walau hanya sebuah ayat”)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar